Si Ranos
Matung Kekes Olo Buo
by Toko Kaos Paser (TKP)
Matung Kekes Olo Buo
by Toko Kaos Paser (TKP)
Pada suatu sore di tepian sungai Kandilo, atau biasa disebut masyarakat pribumi dengan Siring, Sekelompokbocah yang begitu akrab asyik bersantai ditempat-tempat untuk bersantai yang telah disediakan. Mereka adalah Si Ranos (Paser), Si Uyau (Malinau), Si Joko (Jogja), Si Kiki (Palembang), Beta (Wamena) dan Si Pier (Bali). Saat itu mereka asyik membahas tentang pedagang keliling yang berada di sekitar daerah tersebut.
Joko: Di sini rata-rata orang jawa yaa yang berjualan!
Ranos: Iya ko, sebagian besar mereka ini datang dari Pulau Jawa.
Joko: Kalau orang sumatera-nya ada juga nos?
Ranos: ada ko, tapi lebih banyak sih orang Jawa kalau yang berkeliling gini.
Beta: Rata-rata bawa Bakso kecil yaa.
Pier: Pentol namanya.
Ranos: Ahahaha, Iya men, ditempat Uyau juga pasti seperti ini, banyak banged pendatangnya. Bahkan mungkin mewakili semua yang ada di Indonesia.
Pier: Lah, Bali ada juga?
Beta: iya, Papua juga?
Ranos: Yaa ada lah men, potensi yang dimiliki Kalimantan ini-kan cukup besar.
Pier: Tapi beberapa hari disini aku belum pernah liat orang Bali.
Beta: Iya, orang Timor juga tidak ada.
Pier: Hadeeeeh, ngekor aja kau bet.
Beta: Aku kan ngrasain apa yang kau rasakan.
Ranos: Ahahaha’ jadi disini nih sepertinya pekerjaan yang mereka lakukan mengikuti orang-orang sebelum mereka yang sudah duluan kemari. Seperti yang Jawa, sejak aku SD penjual pentol atau pun makanan ringan lain pasti orang Jawa.
Joko: Ooooh, mungkin karena itu dipanggilnya Pa’le.
Ranos: Whahaha, nah kalau masalah itu mungkin ada benernya, yang sebelumnya dipanggil Pa’le, terus Le, terus kadang mereka dipanggil Lele.
Beta: Betu sudah itu nos, yaa kalau penjualnya itu dari Timor, pasti dipanggilnya Pace, terus kadang jadi Ce, dan akhirnya jadi Cece, Cece Pentol.
Ranos: Iya ko, sebagian besar mereka ini datang dari Pulau Jawa.
Joko: Kalau orang sumatera-nya ada juga nos?
Ranos: ada ko, tapi lebih banyak sih orang Jawa kalau yang berkeliling gini.
Beta: Rata-rata bawa Bakso kecil yaa.
Pier: Pentol namanya.
Ranos: Ahahaha, Iya men, ditempat Uyau juga pasti seperti ini, banyak banged pendatangnya. Bahkan mungkin mewakili semua yang ada di Indonesia.
Pier: Lah, Bali ada juga?
Beta: iya, Papua juga?
Ranos: Yaa ada lah men, potensi yang dimiliki Kalimantan ini-kan cukup besar.
Pier: Tapi beberapa hari disini aku belum pernah liat orang Bali.
Beta: Iya, orang Timor juga tidak ada.
Pier: Hadeeeeh, ngekor aja kau bet.
Beta: Aku kan ngrasain apa yang kau rasakan.
Ranos: Ahahaha’ jadi disini nih sepertinya pekerjaan yang mereka lakukan mengikuti orang-orang sebelum mereka yang sudah duluan kemari. Seperti yang Jawa, sejak aku SD penjual pentol atau pun makanan ringan lain pasti orang Jawa.
Joko: Ooooh, mungkin karena itu dipanggilnya Pa’le.
Ranos: Whahaha, nah kalau masalah itu mungkin ada benernya, yang sebelumnya dipanggil Pa’le, terus Le, terus kadang mereka dipanggil Lele.
Beta: Betu sudah itu nos, yaa kalau penjualnya itu dari Timor, pasti dipanggilnya Pace, terus kadang jadi Ce, dan akhirnya jadi Cece, Cece Pentol.
Tertawa semuanya. !@%!#$!#@$#
Joko: waaah, ga kebayang kalau pasukannya Bang Jones yang jual pentol.
Beta: Kenapa kalau pasukan bang Jons?
Joko: Pertama mereka dipanggil Laek pentol, terus Ek pentol, akhirnya ...... pentol.
Beta: Kenapa kalau pasukan bang Jons?
Joko: Pertama mereka dipanggil Laek pentol, terus Ek pentol, akhirnya ...... pentol.
Mereka semua-pun tertawa terbahak-bahak, dan saat itu datang si Uyau & si Kiki yang baru menyusul kesitu.
Uyau: woy woy woooy, pada berisik sih.
Kiki: Ada apaan.
Pier: Ngga men, lagi ngomongin yang bulet-bulet aja.
Kiki: Ada apaan.
Pier: Ngga men, lagi ngomongin yang bulet-bulet aja.
Ahahahahaha !%@$!#
Joko: terus-terus kalau yang lainnya.
Ranos: Kalau temen-temen yang dari Sulawesi sih biasanya berurusan di Pasar ikan men.
Kiki: iya nos, tadi pagi aku nemanin mama mu ke Pasar Sanken ad...
Ranos: Senaken!
Kiki: oh iya Senaken, itu mama mu manggilnya Daeng semua.
Uyau: Tempat ku juga biasanya begitu men.
Ranos: Yaa rata-rata gtu men
Pier: Nah terus orang pribuminya sendiri kerja apa nos.
Beta: Iya nos, kerja apa?
Ranos: Kalau orang Pasernya sendiri apa yaa, sederhana juga kok kerjaan mereka, ada yang berkebun, berjualan juga.
Uyau: Yaa mngkin karena mereka orang sini jadi ga perlu berkelompok gtu.
Pier: Tapi kalau gitu sepertinya penghasilan mereka tidak terlalu banyak
Ranos: Lah merekakan tinggal didalam juga, bukan ditengah kota gini.
Beta: Iya, jadi tidak ada godaan buat beli ini itu.
ranos: Lagi pula pesan orang tua dulu, ‘Matung Kekes Alo Buo’
Beta: Apa itu?
Ranos: bekerjalah kamu, walau hasilnya sedikit yang penting itu hasil kerja keras mu dan itu halal.
Pier: Panjang bener artinya?
Beta: Iya, panjang
Kiki: Peribahasa yaa?
Ranos: iya meeeen.
Uyau: Iya, orang tua dulu juga begitu ditempat ku, pasti kalau nasehatin singkat tapi artinya kemana gitu.
Ranos: Kalau para Tua kami dulu sudah kenal yang namanya Estetika men, jadi mereka itu lebih menitik beratkan pesan mereka itu lebih enak saat diucapkan dan didengarkan.
Beta: Wedeeeew, keren yaa.
Pier: Boleh juga tuh, apa tadi?
Ranos: Matung Kekes Olo Buo.
Uyau: api kalau diartikan perkata apa men?
Ranos: Matung itu Masang gtu men, eeeemmmm, bisa juga diartikan bagian dari pondasi rumah. Kalau Kekes itu Ayakan men, yag biasa buat nyaring tepung. Olo itu hari, kalau Buo itu hujan gerimis yang biasanya kalau pas pagi-pagi terus awet banget tu hujan.
Joko: Agak susah yaa ngartikan kalau perkata.
Uyau: Mungin mereka pakai simbol men.
Pier: Iya tuh, hujan itu keringatnya, terus ayakan itu sebagai simbol kegiatan kerjanya.
Ranos: bisa jadi tuh, kalau orang ngayakkan bisa sendirian.
Beta: apa tadi men bahasa Pasernya?
Ranos: Matung Kekes Olo Buo.
Ranos: Kalau temen-temen yang dari Sulawesi sih biasanya berurusan di Pasar ikan men.
Kiki: iya nos, tadi pagi aku nemanin mama mu ke Pasar Sanken ad...
Ranos: Senaken!
Kiki: oh iya Senaken, itu mama mu manggilnya Daeng semua.
Uyau: Tempat ku juga biasanya begitu men.
Ranos: Yaa rata-rata gtu men
Pier: Nah terus orang pribuminya sendiri kerja apa nos.
Beta: Iya nos, kerja apa?
Ranos: Kalau orang Pasernya sendiri apa yaa, sederhana juga kok kerjaan mereka, ada yang berkebun, berjualan juga.
Uyau: Yaa mngkin karena mereka orang sini jadi ga perlu berkelompok gtu.
Pier: Tapi kalau gitu sepertinya penghasilan mereka tidak terlalu banyak
Ranos: Lah merekakan tinggal didalam juga, bukan ditengah kota gini.
Beta: Iya, jadi tidak ada godaan buat beli ini itu.
ranos: Lagi pula pesan orang tua dulu, ‘Matung Kekes Alo Buo’
Beta: Apa itu?
Ranos: bekerjalah kamu, walau hasilnya sedikit yang penting itu hasil kerja keras mu dan itu halal.
Pier: Panjang bener artinya?
Beta: Iya, panjang
Kiki: Peribahasa yaa?
Ranos: iya meeeen.
Uyau: Iya, orang tua dulu juga begitu ditempat ku, pasti kalau nasehatin singkat tapi artinya kemana gitu.
Ranos: Kalau para Tua kami dulu sudah kenal yang namanya Estetika men, jadi mereka itu lebih menitik beratkan pesan mereka itu lebih enak saat diucapkan dan didengarkan.
Beta: Wedeeeew, keren yaa.
Pier: Boleh juga tuh, apa tadi?
Ranos: Matung Kekes Olo Buo.
Uyau: api kalau diartikan perkata apa men?
Ranos: Matung itu Masang gtu men, eeeemmmm, bisa juga diartikan bagian dari pondasi rumah. Kalau Kekes itu Ayakan men, yag biasa buat nyaring tepung. Olo itu hari, kalau Buo itu hujan gerimis yang biasanya kalau pas pagi-pagi terus awet banget tu hujan.
Joko: Agak susah yaa ngartikan kalau perkata.
Uyau: Mungin mereka pakai simbol men.
Pier: Iya tuh, hujan itu keringatnya, terus ayakan itu sebagai simbol kegiatan kerjanya.
Ranos: bisa jadi tuh, kalau orang ngayakkan bisa sendirian.
Beta: apa tadi men bahasa Pasernya?
Ranos: Matung Kekes Olo Buo.
Mereka-pun berlanjut dengan menghafal kalimat pribahasa Paser itu, dan terus bercandaan di tepian sungai Kandilo.
TAMAT
Begawi-lah dan Pesundok-lah diang seleloi,
nang iko me kono hak ko,
maka rejeki yo olai pasti iko kuli.
by Si RANOS

Tidak ada komentar:
Posting Komentar