Minggu, 21 Desember 2014

Si Ranos Bekesah 'Matung Kekes Olo Buo'

Si Ranos
Matung Kekes Olo Buo
by Toko Kaos Paser (TKP)
Pada suatu sore di tepian sungai Kandilo, atau biasa disebut masyarakat pribumi dengan Siring, Sekelompokbocah yang begitu akrab asyik bersantai ditempat-tempat  untuk bersantai yang telah disediakan. Mereka adalah Si Ranos (Paser), Si Uyau (Malinau), Si Joko (Jogja), Si Kiki (Palembang), Beta (Wamena) dan Si Pier (Bali). Saat itu mereka asyik membahas tentang pedagang keliling yang berada di sekitar daerah tersebut.
Joko: Di sini rata-rata orang jawa yaa yang berjualan!
Ranos: Iya ko, sebagian besar mereka ini datang dari Pulau Jawa.
Joko: Kalau orang sumatera-nya ada juga nos?
Ranos: ada ko, tapi lebih banyak sih orang Jawa kalau yang berkeliling gini.
Beta: Rata-rata bawa Bakso kecil yaa.
Pier: Pentol namanya.
Ranos: Ahahaha, Iya men, ditempat Uyau juga pasti seperti ini, banyak banged pendatangnya. Bahkan mungkin mewakili semua yang ada di Indonesia.
Pier: Lah, Bali ada juga?
Beta: iya, Papua juga?
Ranos: Yaa ada lah men, potensi yang dimiliki Kalimantan ini-kan cukup besar.
Pier: Tapi beberapa hari disini aku belum pernah liat orang Bali.
Beta: Iya, orang Timor juga tidak ada.
Pier: Hadeeeeh, ngekor aja kau bet.
Beta: Aku kan ngrasain apa yang kau rasakan.
Ranos: Ahahaha’ jadi disini nih sepertinya pekerjaan yang mereka lakukan mengikuti orang-orang sebelum mereka yang sudah duluan kemari. Seperti yang Jawa, sejak aku SD penjual pentol atau pun makanan ringan lain pasti orang Jawa.
Joko: Ooooh, mungkin karena itu dipanggilnya Pa’le.
Ranos: Whahaha, nah kalau masalah itu mungkin ada benernya, yang sebelumnya dipanggil Pa’le, terus Le, terus kadang mereka dipanggil Lele.
Beta: Betu sudah itu nos, yaa kalau penjualnya itu dari Timor, pasti dipanggilnya Pace, terus kadang jadi Ce, dan akhirnya jadi Cece, Cece Pentol.
Tertawa semuanya. !@%!#$!#@$#
Joko: waaah, ga kebayang kalau pasukannya Bang Jones yang jual pentol.
Beta: Kenapa kalau pasukan bang Jons?
Joko: Pertama mereka dipanggil Laek pentol, terus Ek pentol, akhirnya ...... pentol.
Mereka semua-pun tertawa terbahak-bahak, dan saat itu datang si Uyau & si Kiki yang baru menyusul kesitu.
Uyau: woy woy woooy, pada berisik sih. 
Kiki: Ada apaan.
Pier: Ngga men, lagi ngomongin yang bulet-bulet aja.
Ahahahahaha !%@$!#
Joko: terus-terus kalau yang lainnya.
Ranos: Kalau temen-temen yang dari Sulawesi sih biasanya berurusan di Pasar ikan men.
Kiki: iya nos, tadi pagi aku nemanin mama mu ke Pasar Sanken ad...
Ranos: Senaken!
Kiki: oh iya Senaken, itu mama mu manggilnya Daeng semua.
Uyau: Tempat ku juga biasanya begitu men.
Ranos: Yaa rata-rata gtu men
Pier: Nah terus orang pribuminya sendiri kerja apa nos.
Beta: Iya nos, kerja apa?
Ranos: Kalau orang Pasernya sendiri apa yaa, sederhana juga kok kerjaan mereka, ada yang berkebun, berjualan juga.
Uyau: Yaa mngkin karena mereka orang sini jadi ga perlu berkelompok gtu.
Pier: Tapi kalau gitu sepertinya penghasilan mereka tidak terlalu banyak
Ranos: Lah merekakan tinggal didalam juga, bukan ditengah kota gini.
Beta: Iya, jadi tidak ada godaan buat beli ini itu.
ranos: Lagi pula pesan orang tua dulu, ‘Matung Kekes Alo Buo’
Beta: Apa itu?
Ranos: bekerjalah kamu, walau hasilnya sedikit yang penting itu hasil kerja keras mu dan itu halal.
Pier: Panjang bener artinya?
Beta: Iya, panjang
Kiki: Peribahasa yaa?
Ranos: iya meeeen.
Uyau: Iya, orang tua dulu juga begitu ditempat ku, pasti kalau nasehatin singkat tapi artinya kemana gitu.
Ranos: Kalau para Tua kami dulu sudah kenal yang namanya Estetika men, jadi mereka itu lebih menitik beratkan pesan mereka itu lebih enak saat diucapkan dan didengarkan.
Beta: Wedeeeew, keren yaa.
Pier: Boleh juga tuh, apa tadi?
Ranos: Matung Kekes Olo Buo.
Uyau:  api kalau diartikan perkata apa men?
Ranos: Matung itu Masang gtu men, eeeemmmm, bisa juga diartikan bagian dari pondasi rumah. Kalau Kekes itu Ayakan men, yag biasa buat nyaring tepung. Olo itu hari, kalau Buo itu hujan gerimis yang biasanya kalau pas pagi-pagi terus awet banget tu hujan.
Joko: Agak susah yaa ngartikan kalau perkata.
Uyau: Mungin mereka pakai simbol men.
Pier: Iya tuh, hujan itu keringatnya, terus ayakan itu sebagai simbol kegiatan kerjanya.
Ranos: bisa jadi tuh, kalau orang ngayakkan bisa sendirian.
Beta: apa tadi men bahasa Pasernya?
Ranos: Matung Kekes Olo Buo.
Mereka-pun berlanjut dengan menghafal kalimat pribahasa Paser itu, dan terus bercandaan di tepian sungai Kandilo.
TAMAT

Begawi-lah dan Pesundok-lah diang seleloi,
nang iko me kono hak ko,
maka rejeki yo olai pasti iko kuli.
by Si RANOS

Siapakah Si RANOS???


  Si Ranos merupakan karakter yang terlahir dari buah pikir dari para pasukan Radikal Nol Sembilan. Ranos sendiri adalah singkatan yang diambil dari nama omunitas tersebut. Pasukan Radikal Nol Sembilan terbentuk pada tahun 2009, yang mana pasukannya mayoritas mahasiswa angkatan 2009. Tokoh Si Ranos diharapkanbisa menjadi icon penyapai pesan dan hal-hal yang berbau unsur kebudayaan yakni Seni dan Bahasa kepada masyarakat luas.
 Si Ranos berkonsep sesosok anak kecil dengan hanya mengenakan kain putih kecil sebagai penutup tubuh. Anak Kecil disini disimbolkan sebagai manusia yang masih meiliki semangat dan kemampuan otak yang maksimal sehingga bisa menampung lalu menyampaikan segala budaya Paser, khususnya dibidang Seni dan Bahasa.
  Kain kecil berwarna putih merupakan simbol netral yang ditunjukkan oleh tokoh bahwa si Ranos tidak memilih-milih dalam hal budaya, selama hal dan ide-ide itu bersifat constructive maka si Ranos akan menyampaikannya ke masyarakat luas dengan kemasan yang menarik dan original.

Kamis, 18 Desember 2014

Terminal Kebudayaan Paser (TKP)

Kita ditakdirkan terlahir di Bumi Pertiwi ini, dimana kita memiliki begitu banyak keberagaman dari setiap suku bangsa, hingga akhirnya suatu identitas dan karakter adalah hal penting masing-masing daerah atau-pun kelompok, agar mudah dikenal dan diingat oleh masyarakat lain. Budaya merupakan hal yang sudah pasti dimiliki setiap suku bangsa saat ini, namun unsur budaya yang bisa benar-benar menunjukkan khas ataupun karakter suatu suku atau daerah ialah Seni dan Bahasa. Maka dari itu Terminal Kebudayaan Paser (TKP) merupakan wadah bagi seluruh kalangan masyarakat Paser untuk Mengetahui, Mempelajari, Memahami, dan Menyampaikannya ke masyarakat luas tentang budaya yang dimiliki suku Paser. Selain itu TKP juga menjadi wadah untuk berEKSPRESI dan Mengembangkan apa yang dimiliki Paser, serta penyalur KREATIVITAS yang dihasilkan dari buah pikir seluruh kalangan masyarakat Paser.

Visi:
Menjadi pusat informasi tentang budaya Paser, serta memberikan tempat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat Paser untuk Mengenal & Mempelajari budaya Paser beserta wadah Kreativitas bagi seluruh masyarakat yang berada di Tanah Paser.

Misi:
+Melestarikan bahasa daerah agar seluruh masyarakat paser bisa bercakap atau-pun memahami bahasa Paser.
+Mengenalkan kesenian bahari maupun seni ke-kini-an yang dimiliki suku Paser ketingkat internasional, diawali di seluruh wilayah Tanah Paser.
+Membuat kegiatan yang berhubungan dengan budaya Paser baik performing art, visual art, audio art, dan audio visual art dengan kemasan menarik dan konsumtif agar dapat dinikmati seluruh kalangan yang berada di Tanah Paser.
+Memberi tempat kepada seluruh masyarakat Paser yang memiliki karya seni untuk disampaikan ke masyarakat luas.

Bagi penduduk Paser khususnya para pemuda & pemudi Paser diharapkan bisa terlibat dalam kemajuan budaya Paser agar kita menjadi masyarakat yang memiliki identitas dan karakter yang bisa dikenali masyarakat luas.



Terminal Kebudayaan Paser (TKP)
Alamat:
jalan Kandilo Bahari, RT.01/RW.001, utara Gg. Reformasi V, Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, Indonesia 76211.
Kontak:
Telp/sms/WA: 0822-2009-4529
BB: 519A4E0A
Facebook: Terminal Kebudayaan PASER
Instagram: @siranospaser
Line id: si_ranos
Youtube: Si Ranos